Albarzanji Dziba’ Vs Nasar

Dalam momentum Maulid Nabi ini saya ingin menulis tentang tradisi di daerah saya untuk memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw, yaitu pembacaan sejarah Nabi yang terangkum dalam sebuah karya sastra yang judul aslinya adalah ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Namun, dalam perkembangannya, nama pengarangnyalah yang lebih masyhur disebut, yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Dia seorang sufi yang lahir di Madinah pada 1690 M dan meninggal pada 1766 M. [sumber NU Online]

yang mo saya ceritakan bukan tentang pro kontra kegiatan maulid yang ditentang oleh teman-teman ahlusunnah-wahabiah [saya tambah wahabiah soale sekarang susah mo nyebut ahlussunnah or salafiyah karena keliatannya nih baru terjadi persaingann sengit, rebutan lah, untuk menyandang predikat Salafy ini]

yang mau tak ceritakan tuh.. di daerah saya kalo maulud gini semua lapisan masyarakat membaca yang namanua albarzanji, dalam kitab itu kan ada banyak isinya, ada dziba’, nasar, syariful anam dan lainnya. nah dari semua itu yang paling populer di tempat saya tuh dziba’ dan nasar. waktu saya kecil saya senang sekali kalo ikut bapak saya berjanjen istilah untuk orang membaca albarzanji, dan dulu yang paling populer tuh dziba’ kemudian seiring waktu kepopuleran dziba’ tergeser oleh nasar, apa pasal? dziba’ tuh panjang banget dari awal sudah melagukan syair dua bait panjang-panjang kemudian baru membaca rawi beberapa bagian lagi kemudian baru mahalul qiyam. sedang nasar tuh singkat banget setelah membaca syair beberapa baris kemudian dilanjutkan dengan membaca rawi yang diawali dengan aljannatu wanaimuha sya;dul liman yusholli wa yusallim wa yubarik alaih… empat paragraph rawi langsung mahalul qiyam. singkat cepat setelah mahalul qiyam langsung doa. makanya orang modern yang diburu waktu [?] lebih memilih untuk membaca barzanji nasar ini ketimbang dziba’ yang puanjang dan lamaa… Hanya tinggal jamaah muslimat saja yang masih membaca dziba’ itu pun kadang-kadang.

Diam-diam saya merasa rindu dengan bacaan dziba. orang-2 di tempatku melagukan syair-syair dalam dziba’ dengan sedemikian indah, ada tempo dari pertama lambat mendayu lama kelamaan sampai pada klimaks cepat dan penuh semangat. Sampai saya sering menguping saat jamaah muslimat membaca dziba’ tapi… tidak seindah yang dilagukan jamaah putra. Eh ternyata yang merasa kehilangan pada bacaan dziba’ versi lama tuh bukan hanya saya, banyak orang yang kemudian rasan-rasan untuk melatih kembali bacaan dziba ini karena… Kemarin Bulek saya meminta jamaah putra untuk membaca dziba’ atas wasiat mendiang paklek, lha pada acara yang langka itu semua begitu menikmati lantunan syair-syair yang dilagukan tapi banyak yang terbata-bata dan salah disana-sini karena dah lama gak dibaca.

akhirnya setelah acara kemarin malam itu sepakat untuk merutinkan lagi bacaan dziba’ yang sempat tergeser popularitasnya oleh nasar…

itu aja yah…

About these ads

17 thoughts on “Albarzanji Dziba’ Vs Nasar

  1. tanya dikit ya, mas…
    berjanjen tu sunnah bukan?
    kalo bukan, mubah ga?

    innallaha wamalaaikatahu yusholluna ‘alannaby yaa ayyuhalladziina aamanu shollu alaihi wasalliimu tasliima…
    membaca sejarah nabi, sebagai wujud mencintai nabi, untuk meneladani-nya menurut saya berpahala tuh mas…

  2. yang mas kutip dalil tentang shalawat.
    yang saia tanya soal berjanjen.
    maaf mas, saia agak bingung.

    lha berjanjen tuh kan kumpulan sholawat dan syair pujian kepada nabi, syair sejarah nabi to mas…
    perlu saya utarakan dulu ya biar maklum, saya penganut ahlisunnah wal jamaahnya madzahibil arba’ah syafi’iyyah [biar ndak sasar susur].
    sebetulnya saya takut salah ni njawabnya karena bukan maqom saya untuk itu, pengetahuan agama saya amat dangkal, so cmiiw yah… plis :)
    berjanjen [kegiatan membaca Maulid Albarzanji] dilakukan untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad Saw. Terlepas dari hukum nya apa? itu wujud dari rasa cinta kepada kekasih kita Nabi Muhammad Saw [QS 2:31-32, 9:24].
    Tahu kan mas orang jatuh cinta kayak apa, ya ingin muji2 terus lah, saya juga ingin gitu mas…
    oh ya gara-gara mas ni sy kepaksa mbongkar almari dan nemu tulisan ini mas…

    Ibnu Taimiyah dalam “iqtidha’ shirothil mustaqim” hal 297 berkata, “Adapun mengagungkan maulid dan menjadikannya acara rutinan, segolongan orang terkadang melakukannya. dan mereka mendapatkan pahala yang besar karena tujuan baik dan pengagungan kepada Rasulullah Saw.

    Oh ya mas kalo di tempat saya ni ya berjanjen tuh efektif buat ngundang orang nha disitu kita bisa ngajak orang untuk datang berjamaah ke musholla lho mas wetul itu :)

    finally mas tentu masih bingung karena belum saya jawab berjanjen tuh hukumnya apa ya kaaan…?

  3. malah jadi tambah binun neh…
    tapi maaf ya jadi sampe bongkar lemari segala

    pengetahuan agama saia juga masih dangkal
    saia sendiri merasa ga mesti bermadzhab
    saia muslim, tanpa terusan apapun di belakangya
    saia juga mencintai Muhammad SAW dan berharap bisa bertemu dengan beliau

    saia ga melakukan berjanjen
    simply karna saia merasa cukup dengan ragam shalawat yang dicontohkan dari Rasulullah dan para sahabat
    saia juga ga ngerayain maulid nabi
    simply karna beliau dan para sahabat juga ga ngelakuin itu
    mudah2an ga berarti saia kurang mencintai beliau
    dan saia merasa lebih “aman” dengan pilihan saia
    mudah2an mas juga bisa beramal lebih “aman”
    kalo pun ga, insyaAllah kita tetap sama2 muslim yang belajar mencari kebenaran

    btw, sepaham saia seruan buat shalat berjamaah cuma adzan tuh

    yah mas terima kasih ajakannyya…. saya tetap bermadzhab mas juga untuk mencari ‘aman’ dan karena sy merasa gak bisa berijtihad… udah gitu aja ya mas ndak kedowo-dowo sy sungguh tidak mempunyai kapasitas untuk mendiskusikan hal ini, maaf bila tidak bisa memuaskan sampean yang jadi malah tambah bingung niii.
    btw… kalo pas kumpul2 sama jamaah gak ngajak orang untuk pergi ke musholla mas…
    selamat berdakwah, wallaahu yubarik fik

    • khoo-lise says:

      ane nyesel br demen me internet, jd ya ketemu yg ginian, setuju pa kate ente barzanji tu menambah rasa syg ane, ibarat orng cnte btul, brzanji isinya memuji nabi, org biasa aje seneng d puji pa lg nabi, al ghazali kaga demen ma sesuatu tp ia belajar dulu ma y ga ia demenin jd ia tau, blum blajar eeee dah kaga demen gmn tu….,ga bermazhab ????? ane palah takut ma ijtihad ane yaa menurut ane kapabelitas kita mu ijtihad dipertanyakan,lebih instan n terpercaya bermazhablah

  4. tiwil says:

    he..he..he.. byar aja yg ga mo bermazhab…mgkn dia emng “mujtahid” jd ga perlu pemandu dlm beragama…kalo kita2 yg bodoh mah bersyukur ada yg mau ngasih tuntunan..

  5. Hasan says:

    Kebersamaan itu indah… berbeda pendapat itu sunatullah… Barzanji itu riwayat…
    Sholawat itu ada dalam ayat Allah… Mengenal Nabi melalui Barzanji itu Bid’ah hasanah… memang tidak dicontohkan Nabi SAW tapi bisa menambah keimanan… Shollu ‘alannabi…

  6. Muchlis Addamawie says:

    “Kadar cinta itu terletak pada usaha utk mencapai tingkatan tertinggi dalam meraihnya…”
    Rosulullah dalam rangka mencintai dan menuju Allah rela mengganti tidur malamnya dengan Sholat sunnah semalam suntuk sampai kaki Beliau bengkak dan bernanah.
    Untuk apa? meraih tingkatan kenikmatan & kelezatan tertinggi dalam mendekatkan diri kepada Allah…itu adalah sunnah rosul.

    Lalu pertanyaannya sudahkah kita mengamalkan hal semacam itu?
    Boro2 seperti itu, kadang sholat wajib 5 waktu saja kita bolong2…tul nggak?
    Nah itu sama dengan mencukupkan diri dengan ibadah seperlunya saja…
    Yah kadar cintanya segitu2 aja!
    Saya yakin dengan sepenuh hati bahwa Barzanji, Diba’, Natsar, Simtuddhuror, diciptakan sebagai salah satu sarana meraih kedalaman cinta pada Rosulullah. Sebagaimana diciptakan Mushaf Utsmaniyah dan ilmu Tafsir Tajwid serta pembakuan huruf hija’iyyahnya (yg jg termasuk bid’ah hasanah) utk menggali ilmu AlQur’an. karena huruf arab Al-Qur’an waktu itu masih tanpa titik dan belum ada bentuk bakunya.
    Mari kita berlomba2 dalam meningkatkan kecintaan kepada Allah dan RosulNya.
    Wallahu A’lamu bi Showaab…!

  7. Beragama, beribadah itu perlu dasar hukum yang jelas.
    orang islam itu harus berilmu, jangan hanya ikut2an.
    Yang namanya kiai bisa salah, hilaf.
    yang fatal salahnya kiai diikuti oleh banyak orang
    dan dijadikan hukum agama.

  8. zaki says:

    Pak mau minta teksnya dziba’ atau barzanji yang berupa ketikan komputer, untuk diperbanyak, karena selama ini hanya berupa tulisan tangan. kalau ada tolong kirim ke alamat kangzaki@gmail.com, Syukron katsiir..

  9. Mustafa Adnani says:

    Bakal Muchlis Addamawie
    Aneh juga, kalau gagasan hingga munculnya kitab al Barzanji diselaraskan dengan munculnya mushhaf (kodifikasi Al Quran) atau munculnya tafsir, atau munculnya hadits, yang pada gilirannya muncullah hukum-hukum. So,ane harap bedakanlah budaya dengan syariat.Jangan sampai dari kitab Al Barzanji muncul hukum baru. Hati-hati ah.
    Kalau melihat ke zaman Al Quran turun, ada ayat QS4:62, artinya: “Maka bagaimana halnya apabila mereka (orang-orang munafik) ditimpa suatu musibah lantaran perbuatan mereka sendiri, lantas mereka datang kepadamu (Muhammad) seraya bersumpah:”Demi Allah, kami sekali kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamain yang sempurna (illaa ihsaaan wa tawfiqan).”. Jadi, kalau hanya dengan latar belakang “demi kebaikan, atau demi memperdalam kecintaan atau keimanan” secara otomatis dianggap benar atau shahih (syah), maka bom bunuh diri adalah shah juga dong?! Nah ini perlunya banyak baca Al Quran, bukan untuk banyak pahala atau fadhaail, tapi tentang ilmu atau wawasan.

  10. Muhajir says:

    Cobalah kita berfikir dengan hati yang ikhlas,buang sikap fanatik berlebihan.
    Sudahkah kita faham arti syair bacaan albarzanji itu,sebagian syairnya terlalu berlebih2an dalam memuji Nabi SAW dan mengada2kan cerita yang tak ada riwayat shahih mengenainya.
    Fikirkanlah dengan hati yang jernih dan buatlah penilaian tanpa emosi.

  11. Mustafa Adnani says:

    To Muhajir posted 4 Oktober 2010 @12.35 am. To whom your comment did you sent?. Ketika kita melaksanakan sholat dan berdoa, wajah yg terpampang adalah dihadapkan kepada Allah semata.Ketika kita mamangku anak kita, yg tercurah adalah kasih sayang. Ketika sepiring nasi dihidangkan kepada si miskin adalah keikh-lasan menopang hati kita. Ketika meminta maaf, rasa salah mengelilingi diri kita. Dan ketika kita menyatakan sesuatu pada rubrik ini, diusung oleh keinginan mencari dan memberi ilmu.

  12. punten says:

    Asswrwb, mau bertanya ini Kang Hanafi…bagaimana hukumnya kalau yang melakukan alberjanji adalah kaum hawa di sebuah masjid dengan pengeras suara dan pada malam hari? Apakah masih dikatakan bid’ah hasanah? Suwun, wassalamwrwb

  13. pulan says:

    asslmkm hehehee
    mau di ikuti silahkan atau tidak juga terserah mereka ,yang penting kita sama sama harus tahu tentang sejarah rasulullah saw ,usnul khuluk supaya kita selalu mencontoh rasulullah dan mencintai rasul .dalam hadist dikatakan man ahabbani kana mai pil jannah. barang siapa yang mencintai kami maka kita sama sama-sama ke surga.

  14. Asal says:

    Kalau menurut saya mungkin ada kebaikan didalam kitab barjanji tadi. tapi menurut saya kitab barjanji itu bukan untuk dibaca secara rutin yang seolah-olah menyerupai ibadah wajib. tetapi lebih kepada mempelajari maknanya.sekarang ini banyak sekali orang baca barjanji tapi gak tau artinya, jadi hanya nyanyian doang yang dikedepankan, tanpa memahami maknanya. yang paling penting adalah maknanya, gak ada salahnya dijadikan mata pelajaran sebagai tuntunan keteladan buat kita semua. justru yang harus lebih sering dibaca terus menerus yaitu al-Quranul karim. karena tempat saya banyak sekali orang doyan baca rawi tapi gak doyan baca Quran, kalau udah begitu berarti bagaimana….? apakah baca barjanji itu wajib atau hanya pekerjaan baik saja? baik menurut manusia belum tentu baik menurut Allah, masih ada hal-hal yang lebih baik yang bernilai ibadah. sebaiknya itu barjanji pelajari maknanya saja, tidak perlu di baca secara rutin kalau gak mengerti artinya. kalau pas maulid ya silahkan karena itu bagian dari pada peringatan, waktunya gak tetap kan bisa tanggal berapa aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s