Arsip untuk Kategori 'social stuff'

02
Jun
09

Selalu ada lubang di ujung jarum

Suatu ketika disaat yang belum lama berlalu, sehabis jumatan ada sms mampir di hp saya “mas tolong sy sgr dikirim proposal yg pernah kt bicarakn kmrn, asap, selasa bisa ya? ”

Selasa…, padahal semua bahan proposal itu belum siap karena saya mengira ‘pembicaraan’ dengan teman saya yang ada di IBUKOTA itu cuma udoroso saja mengenai kesulitan mengelola Taman Pendidikan Alquran level menengah bawah. Proposal inikah jalan keluar? Kalau iya mengapa tidak? Setelah ba-bi-bu sedikit dengan mas Latif putra bapak pengasuh, kami berdua langsung bagi tugas. Niat kami, yang semoga Allah berkenan, adalah memajukan TPQ, itu saja.

Proposal, tentu sidang pembaca sudah mafhum adanya harus disertai dengan dokumen pendukung sebagai bahan nggombal pertimbangan. Dikarenakan dalam mengelola TPQ ini masih dalam level menengah bawah tadi, maka dokumen-dokumen pendukung pun tida ada semua. Disinilah perjuangan dimulai. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dan Berita Acara Pendirian TPQ sebagai syarat mendaftarkan akta ke notaries harus dibuat dulu, uniknya dari dewan semua pendiri nggak ada yang tahu dulu TPQ ini didirikan tahun berapa, lha mau ingat bagaimana wong cikal bakal TPQ ini juga dari mbah-mbah kami yang dulu ngajari ngaji di rumah-rumah. AD/ART, untung mas Aslah punya contoh yang boleh saya jiplak – ctrl+f alhusna – alt+p hidayatussibyan – alt+a. rebes..

Jumat Sore itu juga ke Notaris, ditemui salah seorang staf, tapi beliau bilang selasa/rabu baru bisa jadi, waduh blaik, asal hari itu juga semua syarat sudah terpenuhi, AD/ART, BA, FC KTP Pendiri dan Pengurus Harian [ya iyalah mau buat akta notaries masak kayak pesen gorengan aja, ditunggu jadi]. Saya sempat ngeyel sedikit tapi tetap tidak bisa. Untungnya kengeyelan saya tadi didengar oleh Ibu Notaris yang ada di ruang sebelah, sayapun dipanggil oleh beliau. Setelah beliau tahu permasalahan, diluar dugaan yang membuat saya terkejut, beliau siap membantu tanpa dipungut biaya, bahkan beliau masih menghibahkan sejumlah IQRO’, ALQURAN, dan ALAT TULIS. Misal saya tidak rikuh dan pekewuh pun mungkin saya masih akan dikasih karpet. Jazaakillah bu Kunsri Hastuti SH. Akte Lembaga TPQ atas jasa beliau bisa selesai Senin pagi.

Setelah akta jadi kemudian dijadikan dasar pembuatan rekening tabungan lembaga di bank. Karena saya baru bisa mbolos ijin sama bos jam 13.30 meskipun sebetulnya ada lemburan, sampai di bank jam 15.00 sudah tutup! Omaigat! Saya coba beberapa bank sama, meski masih buka pun untuk melengkapi syarat sudah nggak nyandak. Karena saya punya saudara karyawan di BTPN dengan harap cemas kami kesana. Alhamdulillah syarat-syarat bisa menyusul asal sudah ada akta notaries, yang penting bagi saya hari senin itu sudah tercetak buku tabungan atas nama lembaga TPQ.

Jarum jam sudah ada di angka 16.30 mas Latif yang bagi tugas ambil stempel yang sudah dipesen sejak sabtu nges-em-es, “blaik maneh stempele rung katut digawe han, suruh nunggu ¼ jam!” Padahal kami masih harus ke Warung Fotokopi ambil jilidan Proposal n intinya harus sampai TIKI sebelum jam 17.00. Disinilah mengapa selalu ada lobang di ujung jarum pada Jumat-Senin ini. Ndilalah sampai TIKI masih buka meski dah hampir jam 17.30 [di warung fotokopi sempat garuh lagi karena halaman yang dijilid kebalik-balik – tidak termasuk cerita mengarang indah menyusun naskah proposal…] banyak sekali ndilalah capur tangan dicerita ini semoga bisa memberi sedikit inspirasi.

Pulang dari TIKI sudah bisa singsot, kemringet olehe kekiter pinjam KTP dah gak berasa capeknya meski proposal itu gol atau tidak wallahu a’lam.

Selalu ada jalan untuk sesuatu kebaikan, sudahkah anda beramal baik hari ini?

17
Apr
09

Catatan dari TPS IX

Meskipun sudah sering menjadi anggota KPPS maupun Panitia Pemilihan Kepala Desa, baru kali ini saya didhapuk sebagai ketua. Dalam Pemilu Legislatif 1999, Pemilu Legislatif 2004, Pemilu Presiden 2004 Putaran I dan II, Pemilihan Kepala Desa, Pemilu Bupati Magelang, Pemilu Gubernur Jawa Tengah saya hanya didhapuk sebagai pekathik bertugas menangani administrasi yang memang agak njelimet.

Perbedaan Pemilu Legislatif kali ini dengan Pemilu sebelumnya adalah pada cara pemberian suara dari mencoblos (yang sudah digunakan sejak tahun 1955) menjadi mencontreng disamping perubahan penentuan Caleg terpilih menjadi sistem suara terbanyak dari sebelumnya nomor urut. Ternyata mengenai contreng-mencontreng ini di TPS saya tidak menjadi masalah yang berarti bagi pemilih (manula sekalipun) mungkin karena daerah tempat tinggal saya ada di kompleks elit :grin: daerah pinggiran kota sekaligus pinggir sawah :lol: . Dari 273 Pemilih yang terdaftar 217 orang menggunakan haknya, lumayanlah. Pemenangnya… Partai Demokrat untuk DPR dan DPRD Prov. serta PPP untuk DPR Kab/Kota, ini mengejutkan karena pada Pemilu2 sebelumnya daerah saya adalah basis fanatik PKB.

contrengCatatan saya yang PERTAMA adalah masalah DPT yang tentu bukan cuma saya yang merasakan dampak kacaunya DPT kali ini. Banyak pemilih yang protes ke tempat saya karena tidak mendapat undangan dan memang tidak tercantum dalam DPT padahal pada Pemilu Gubernur belum lama berselang ybs telah terdaftar. Sementara banyak diantara nama-nama yang tercantum orangnya sudah meninggal dan pindah. Masalah ditambah dengan kacaunya pembagian Pemilih untuk masing-masing TPS dikarenakan adanya penambahan TPS secara mendadak dari semula 3 TPS menjadi 4 TPS jadi bisa terjadi A yang berdomisili dekat dengan TPS 1 bisa mendapat undangan dari TPS 3. Hal ini menyulitkan bagi KPPS untuk mencari alamat pemilih karena banyak nama-nama yang tidak dikenal.

Catatan saya yang KEDUA adalah saat hari H pelaksanaan yaitu pengisian Berita Acara dan Rekap Penghitungan suara menggunakan Form Model C dan C1. Total jumlah formulir untuk DPR, DPD, DPRD Prov dan DPRD Kab/Kota berjumlah 33 lembar ditambah dengan Model C1-IT sejumlah 8 lembar. Pengisian form-2 ini sangat menyita waktu meskipun anggota KPPS ke-2 sejak awal sudah saya tugaskan untuk secara khusus mengisi formulir ini tanpa menunggu selesainya proses pemungutan suara (dulu ini merupakan tugas yang selalu ditimpakan kepada saya). Form C dan C1 ini nantinya disampaikan kepada PPS, PPK dan sejumlah saksi yang hadir, maka saya pun berdoa agar saksi yang datang sedikit saja dan alhamdulilah cuma ada 9 orang mewakili Parpol masing-masing. Bisa anda bayangkan mengisi form 33 lembar dikalikan 12 (PPS, PPK, Saksi dan Arsip). Meskipun penghitungan selesai pukul 19.30 saya baru bisa menyerahkan berkas ke PPS jam 22.00 kemudian selesai antri model C1-IT di PPK jam 23.00. Menurut saya form-2 ini masih sangat bisa disederhanakan dan dibuat ringkas saja, penghematan juga kan akhirnya, toh saya yakin tidak semua form-2 itu akan dibaca nantinya. Salah seorang saksi saat saya minta tanda tangan sampai nyeletuk “ini kok banyak banget seperti dokume untuk perang saja” kalo perang dokumen sebanyak ini mah nanti musuh keburu sampai halaman rumah pak… :grin:

Catatan saya yang KETIGA dalam Pemilu kali ini meskipunmenggunakan sistem proporsional terbuka ternyata para pemilih masih banyak yang tidak mengenal wakilnya terutama untuk DPR, DPRD Prov dan lebih parah lagi DPD. Banyak pemilih yang cuma mencentang tanda gambar partai saja, dengan begitu lalu apa bedanya dengan sistem pemilu sebelumnya :?:

Catatan saya yang KEEMPAT adalah sulitnya mencari tanda contrengan pada kertas suara. Sering saya harus melotot dan memicing untuk mencari-cari dimana gerangan ada tanda contrengan itu berada, sering tanda itu hanya berupa garis kecil tepat di tanda gambar parpol sehingga tidak terlihat, apalagi setelah hari menjelang malam. Saya harus meminta para saksi untuk lebih mendekat agar bisa bersama-sama mencari si tanda contreng ini. Lebih enak kalo dicoblos sebenarnya mencari tanda ini. Kemudian adanya surat suara tidak sah hanya disebabkan karena adanya coretan tidak sengaja dari pemilih ini tentu sangat disayangkan karena mengingat banyaknya pemilih yang tidak menggunakan haknya eh yang sudah ikut memilih malah tidak sah kan eman-eman.

Jam 24.00 saya sampai di TPS lagi dengan membawa nasi goreng plus susu jahe, wuihh nikmat… lega rasanya 1 tugas sudah kami selesaikan.

24
Mar
09

Tips untuk anggota KPPS

Musim pemilu tiba, bagi yang senang hura-hura dapat momennya di masa kampanye, bagi yang oportunis cari celah ke para caleg untuk sekedar memasangkan bendera yah sekedar cari tambahan rejeki kata mereka. Menurut teman saya Basirun, ongkos untuk memasang satu bendera rata-rata para Caleg berani membayar Rp. 5.000,- [ukuran kecil di pinggir jalan] semakin besar ukuran bendera, semakin besar pula imbalannya. Sedangkan teman saya ini, dia bisa memasangkan bendera untuk 5 parpol, lumayanlah untuk pengangguran seperti temen saya ini. Belum teman saya satu lagi Kang Samsidi yang rela mogok dari dagang lotis untuk kemudian menjadi kader salah satu caleg. Lebih ‘wah’ lagi karena kemudian dia dia tidak lagi sekedar masang bendera, tapi lebih dari itu. Kang samsidi bahkan dibekali HP yang meskipun seken tapi bunyii terus… thit thit thit…. thit thit thit, walah thit thit’e sopo kuwi kang…

Lha sekarang bagi yang ketengen (bahasa indonesianya saya gak tahu) di masyarakat. Ya ketengen itu kira-kira artinya gaul lah di masyarakat, tidak melulu ngopeni kerja, kerja dan kerja serta hanya berteman dengan orang-orang di dunia maya tapi juga srawung betulan begitu, dan juga enthengan (apa pula bahasa indonesianya, apa ya ringanan kok wagu, kalo ringan tangan lain lagi menjadi gampang memukul, wah mbuh) yah mudahnya easy going lah, mungkin begitu kali. Lha orang-orang seperti ini termasuk saya :grin: yang di musim Pemilu seperti sekarang ketiban sampur alias kadhapuk minongko Petugas Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS).

Honornya… kalau ukuran saya sih sbenarnya lumayan Rp. 225.000,- belum kena pajak untuk saya sebagai ketua [walah] dan Rp. 200.000,- untuk teman-teman anggota yang lain meski ada pula yang merasa honor segitu kurang dan sulit mencari anggota KPPS. Pekerjaan sebagai KPPS ini tahu sendirilah dimulai tadi malam sosialisasi peraturan terakhir yang diterbitkan KPU oleh PPS [Panitia Pemungutan Suara, ada di tingkat Desa], kemudian menulis undangan untuk Pemilih dan membagikannya [bukan perkara sederhana lho membagi undangan untuk pemilih ini karena terkadang banyak kesamaan nama dan tidak hafal ini si A yang mana] . H-1 KPPS mendapat kiriman uborampe [Logistik] Pemilu dari PPS sambil Menyiapkan TPS, ya masang tenda biru lah, buat padi-padi lah dll, etc, lsp. Malamnya lek-lek’an nunggu kotak suara, baru paginya jam 7 thit Acara dibuka sampai jam 12.00. Hal paling berat adalah pas Penghitungan Suara karena diperkirakan akan selesai sampai malam, pengalaman Pemilu 2004 TPS saya selesai menghitung jam 23.00 wib !!! Selesai…… eit belum, dengan masih ngantuk2 para anggota KPPS yang pantang menyerah ini masih harus bongkar2 tenda dan mengembalikan alat-alat yang dipinjam.

Nha dari pengalaman saya, ada beberapa saran yang bisa saya share untuk memudahkan para Anggota KPPS dalam bekerja. ini dia..

  1. Dalam menulis undangan, minta saja pada PPS sofcopy dari DPT, dengan maksud nanti dalam penulisan undangan bisa kita buat database mail merge. Ini bermula karena saya nggak PeDe dengan tulisan saya, kuatir kalo yang menerima undangan malah menjadi bingung disuruh ngapain
  2. Pas membagi undangan kalau memungkinkan minta data penduduk dari Pak RT/RW kan biasanya ada tuh, nha nanti kita cocokkan dulu per keluarga, kita staples terus potong dulu tanda terimanya kemudian baru meluncur wus wus wus, enggak bingug nyari namanya Fatimah yang di TPS saya ada 4 orang betul!
  3. Pada saat acara pencontrengan dimulai, pastikan segala sesuatu yang keluar dari Kotak Ajaib KPU itu kita catat dulu apa dan berapa jumlahnya untuk kemudian nanti kita masukkan Form Berita Acara.
  4. Untuk menulis pada Kartu Suara [Dapil, TPS, Desa, Kecamatan dan Nama Ketua] buat aja stempel nanti tinggal cethak cethok saja tidak kemeng menulis.
  5. Pastikan sebelum acara penghitungan dimulai, semua blangko formulir telah terisi, tentu selain isi hasil penghitungan itu sendiri. Karena biasanya saat penghitungan ini diperlukan konsentrasi yang tinggi dan kalau sudah malam padahal Formulir-2 yang jumlahnya buaanyaakk buetull ini belum diisi terlebih dahulu yah… capek deehhh nunggu nulisnya, Untuk ini tugaskan saja salah satu dari 9 orang anggota KPPS untuk menulis thok tanpa ditugasi pekerjaan lain sampai selesai.
  6. Jangan lupa siapkan papan yang mencukupi untuk menempel blangko rekapitulasi hasil penghitungan, masak nanti mau kita jereng di lantai kan ya ndak lucu tur lagi pegel juga le ndodok karo nulis hehehe :grin:
  7. Tugaskan beberapa anggota KPPS untuk menulis hasil rekapitulasi ini, misal pak parto untuk Partai A sampai F pak Mbilung untuk partai G sampai L dst.
  8. Menginngat Pemilu sekarang Dicontreng dan bukan dicoblos maka perlu trik khusus agar dengan cepat kita dan para saksi mendapat kesamaan persepsi mengenai hasil contrengan. Kalau dulu pas masih dicoblos, kita bisa dengan mudah melihat hasil coblosan dari belakang kartu suara sambil dibentangkan di depan para saksi karena kan bolong, tapi sekarang tentu akan sedikit kesulitan dalam hal ini. Saya rencanakan nanti Kartu Suara lebih dulu dibuka, Binder Klip dulu per 25an atau berapa dan dicantelkan pada Papan, kemudian kita pakai tuding [apa ya... penunjuk lah, duh kosakata saya kok parah banget sih] kayak pak guru di depan kelas, tinggal teriak saja … PARTAI GEMBUS, CALEG NO. 5 …. SAH!!! setelah itu Kartu suara kita Silakke ke belakang [dibalik lah] selesai satu kartu suara dibalik lagi begitu seterusnya sambil anggota KPPS lain menyiapkan Binder Klip 25an lagi. Demikian saya kira akan lebih cepat.

lagi pula ngapain pula sih pakai acara dicontreng segala, ya ini maksud hati tidak ingin dibilang udik tapi mengambil resiko banyaknya suara yang tidak sah.

Itu saja semoga bisa membantu bagi mereka yang blas belum pernah jadi KPPS atau yang sudah langganan seperti saya, kalau ada pengalaman lain mari kita share disini…..

24
Mar
08

Albarzanji Dziba’ Vs Nasar

Dalam momentum Maulid Nabi ini saya ingin menulis tentang tradisi di daerah saya untuk memperingati hari kelahiran Nabi Besar Muhammad Saw, yaitu pembacaan sejarah Nabi yang terangkum dalam sebuah karya sastra yang judul aslinya adalah ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Namun, dalam perkembangannya, nama pengarangnyalah yang lebih masyhur disebut, yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad al-Barzanji. Dia seorang sufi yang lahir di Madinah pada 1690 M dan meninggal pada 1766 M. [sumber NU Online]

yang mo saya ceritakan bukan tentang pro kontra kegiatan maulid yang ditentang oleh teman-teman ahlusunnah-wahabiah [saya tambah wahabiah soale sekarang susah mo nyebut ahlussunnah or salafiyah karena keliatannya nih baru terjadi persaingann sengit, rebutan lah, untuk menyandang predikat Salafy ini]

yang mau tak ceritakan tuh.. di daerah saya kalo maulud gini semua lapisan masyarakat membaca yang namanua albarzanji, dalam kitab itu kan ada banyak isinya, ada dziba’, nasar, syariful anam dan lainnya. nah dari semua itu yang paling populer di tempat saya tuh dziba’ dan nasar. waktu saya kecil saya senang sekali kalo ikut bapak saya berjanjen istilah untuk orang membaca albarzanji, dan dulu yang paling populer tuh dziba’ kemudian seiring waktu kepopuleran dziba’ tergeser oleh nasar, apa pasal? dziba’ tuh panjang banget dari awal sudah melagukan syair dua bait panjang-panjang kemudian baru membaca rawi beberapa bagian lagi kemudian baru mahalul qiyam. sedang nasar tuh singkat banget setelah membaca syair beberapa baris kemudian dilanjutkan dengan membaca rawi yang diawali dengan aljannatu wanaimuha sya;dul liman yusholli wa yusallim wa yubarik alaih… empat paragraph rawi langsung mahalul qiyam. singkat cepat setelah mahalul qiyam langsung doa. makanya orang modern yang diburu waktu [?] lebih memilih untuk membaca barzanji nasar ini ketimbang dziba’ yang puanjang dan lamaa… Hanya tinggal jamaah muslimat saja yang masih membaca dziba’ itu pun kadang-kadang.

Diam-diam saya merasa rindu dengan bacaan dziba. orang-2 di tempatku melagukan syair-syair dalam dziba’ dengan sedemikian indah, ada tempo dari pertama lambat mendayu lama kelamaan sampai pada klimaks cepat dan penuh semangat. Sampai saya sering menguping saat jamaah muslimat membaca dziba’ tapi… tidak seindah yang dilagukan jamaah putra. Eh ternyata yang merasa kehilangan pada bacaan dziba’ versi lama tuh bukan hanya saya, banyak orang yang kemudian rasan-rasan untuk melatih kembali bacaan dziba ini karena… Kemarin Bulek saya meminta jamaah putra untuk membaca dziba’ atas wasiat mendiang paklek, lha pada acara yang langka itu semua begitu menikmati lantunan syair-syair yang dilagukan tapi banyak yang terbata-bata dan salah disana-sini karena dah lama gak dibaca.

akhirnya setelah acara kemarin malam itu sepakat untuk merutinkan lagi bacaan dziba’ yang sempat tergeser popularitasnya oleh nasar…

itu aja yah…

03
Mar
08

Ibu Hamil Kelaparan sampai mati masya Allah…

kok masih ada ya di masyarakat kita orang kelaparan sampai meninggal, seperti berita di detik seorang ibu yang sedang mengandung anak kelima, meninggal setelah tidak makan tiga hari yang mengakibatkan diare hebat, tragisnya lagi lima menit setelah dia meninggal anak ke-2 nya menyusul ke alam baka… beruntung sang adik selamat.

Daeng Basse tentu hanya sebagian dari potret sesungguhnya tentang kemiskinan di indonesia. sedemikian parahnya ditambah lunturnya nilai-nilai dasar dalam bermasyarakat yang menyebabkan kemiskinan itu manjadi semakin menajdi hantu yang sangat menakutkan.


mungkin seperti ini keseharian daeng basse ya…
saat tahu ada orang yang hanya kuat beli beras 1 liter untuk buat tiga hari, sebetulnya kalo nilai-nilai dasar masyarakat masih subur tentu akan datang pertolongan, apalagi sampai tiga hari kelaparan, dalam keadaan hamil tua, sakit-sakitan lagi. mau tidak mau seperti itulah wajah masyarakat kita sekarang ini, bergerak dari masyarakat dengan semangat kegotongroyongan ke masyarakat modern yang acuh tak acuh pada lingkungan sekitar. mari mengaca diri, dalam seminggu ini berapa kali kita bicara pada tetangga sebelah kita, sekedar say hai apalagi untuk sekedar mampir ngopi dan ngobrol, kalo gak diundang pak RT untuk rapat warga mungkin kita sudah gak akan lagi nglegakke [menyempatkan] untuk bertandang ke tetangga kita untuk sekedar bersosialisasi.

masih untung saya tinggal di lingkungan yang gak terlalu kota amat, sedang-sedang saja jadi ya suasana tradisional masih ada dan menjadi nafas dalam kehidupan bermasyarakat.

kembali ke daeng basse almarhumah.. saya jadi teringat pada kisah supriono pemulung di jakarta yang membawa anaknya yang meninggal karena muntaber dalam gerobak [karena tidak bisa sewa ambulan] untuk dibawa ke desanya untuk dimakamkan tapi malah dibawa ke kantor polisi oleh warga … hal ini serupa dalam hal kepedulian masyarakat.

padahal pemerintah dan lembaga lain sudah melancarkan berbagai program untuk menngani kemiskinan ini. p2kp yang jadi pelopor dalam pengentasan kemiskinan mestinya bisa tergerak dengan ini, dengan program penguatan kelembagaan tingkat basic-nya mungkin p2kp [sekarang pnpm] bisa berbuat banyak.

kita pantas bersedih sebagai warga indonesia akan luntur dan hilangnya nilai-nilai sosio kultural asli bangsa indonesia!!!

22
Feb
08

Hidayatussibyan Community Access Point

Hari ini koneksi internet di hidayatussibyan mulai bisa digunakan, menggunakan speedy unlimited yang dipesan 2 hari sebelumnya. 10 komputer yang dishare internet lumayan lancar meski gak cepet-cepet amat sih…
beberapa situs test koneksi bilang seperti ini…

http://www.speakeasy.net/speedtest/
download 253kbps
upload 28 kbps
http://resources.zdnet.co.uk/speedtest/
816 kbits downloaded in 11.109 sec

sekarang kejutan itu serasa sudah lengkap, terima kasih untuk mas Toni Saidun Ali, S.Kom dari elmara atas kedatangannya yang memberikan banyak pencerahan dan pengetahuan tentang IP Address dan cabling, sayang gethuk-nya ketinggal ya mas… kapan-kapan mampir lagi boleh mau diantar kemana lagi….? belum ke ketep pass kan mas…

02
Jan
08

Kejutan Tahun Baru

sepulang kuliah tadi dapat sms dari latif

atif : han nek wis mulih ndang nang tpq… komputere teko… <kaget>
saya : ‘ha tenane, piro?’
atif : enem
saya : ha.. jare rasido
atif : songo ding…
saya : walah…. songo
[belakangan setelah saya itung jumlahnya 10 PC Acer 9 u.client 1 u.server]

saya jrantal dengan suksesnya ke TPQ dan benar aja sudah tergeletak box2 paket berisi sepuluh komputer itu yang merupakan bantuan dari dirjen aptel kominfo

setelah ditunggu-tunggu dengan dag-dig-dug dan harap2 cemas dan dayat sempat mutung barang akhirnya kok ya jadi juga dapat komputer itu…

tentang iniitunya besok aja ah posting lagi…
sekarang dah ngantuk…
just another great new year gift…
SELAMAT TAHUN BARU DEH




orang berguna

Aku ingin melakukan sesuatu hal yang besar, tapi yang harus aku kerjakan tiap hari adalah hal-hal kecil yang seolah-olah adalah hal yang yang besar dan penting buatku.


Profil Facebook Hanafi Muhammad




chat dengan saya..

yang sedang disini ::.
hit counters
dari mana aja yach...?
Locations of visitors to this page

pendekar tidar mengundang para blogger magelang untuk bergabung.. mari..

pilih pilih

Foto2 di Flickr

DSCN6348

DSCN6347

DSCN6313

DSCN6369

DSCN6356

More Photos

my fave picture

sejauh ini sudah

  • 205,144 kali dikunjungi

check this out

 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30