Berakhir sudah karir menawan Paolo Maldini sebagai pemain selama 24 tahun. Kapten AC Milan itu melakoni laga perpisahan di San Siro pada 24 Mei lalu.
PERASAAN Paolo Maldini campur aduk setelah laga giornata (pekan) ke-37 Serie A Liga Italia pada 24 Mei lalu. Itulah partai pemungkas Maldini di San Siro. Sayang, Rossoneri (julukan Milan) mengakhirinya dengan kekalahan 2-3 dari AS Roma.
tak bisa dimungkiri bahwa mantan kapten timnas Italia itu merupakan seorang juara. Dia bukan hanya legenda Milan, tapi juga Italia. Dia menghabiskan 24 Tahun karir sepak bolanya di level atas.

Sampai saat ini, Maldini masih tercatat sebagai pemain dengan caps terbanyak di Gli Azzurri (julukan Italia). Dia mencatat 126 laga dengan sumbangan tujuh gol. Dia juga pemain yang paling banyak tampil di Serie A.
Tidak heran, karena kontribusinya, Milan memastikan akan memensiunkan nomor punggung tiga milik Maldini. Namun, nomor itu bisa saja kembali digunakan di San Siro jika salah seorang anaknya tampil membela Milan.
Saat ini, putra pertamanya, Christian, 13, sudah menjadi bagian dari tim junior Milan. Putra kedua Maldini, Daniel, 6, juga tergabung dalam Akademi Milan. Mereka slap menjadi generasi ketiga Maldini di San Siro. Dinasti Maldini punya catatan hebat dalam sejarah Milan. Paolo Maldini merupakan generasi kedua. Sebelum dia memulai debutnya pada 20 Januari 1985, saat usianya masih 16 tahun, bersama Milan, sang ayah sudah menjadi punggawa Milan.
Ya, Cesare Maldini, generasi pertama dinasti Maldini, lebih dahulu menca tat sejarah. Cesare pernah menjadi kapten Milan dan berjasa membawa Milan merebut gelar Liga Champions pertamanya pada 1962-1963 Setelah gantung sepatu, Cesare mengabdi di Milan. Dia pernah menjadi pelatih Milan-di level junior dan senior. Pria berusia 77 tahun itu juga pernah melatih timnas Italia. Hanya, karir kepelatihannya tidak sehebat karimya sebagai pemain.
Nama besar Cesare pernah menjadi beban di awal karir anaknya. “Tentu saja, mulanya saya in-in buktikan bahwa saya berada di tim ini bukan hanya karena nama belakang saya, meski tidak bisa dimungkiri saya anak Cesare,” papar Maldini.
“Selama beberapa waktu, saya menemukan diri saya berada di bawah bayang-bayangnya. Tapi, seiring perjalanan waktu, saya bisa mengatasinya. Saya berharap agar generasi berikutnya bisa lebih balk dari pencapaian saya,” tegas Maldini. (hatu/diq)
Belum Pastikan Karir setelah Pensiun
KEPUTUSAN gantung sepatu sudah diambil Paolo Maldini. Bentrok AC Milan kontra Fiorentina pada giornata (pekan) terakhir Serie A pada 31 Mei nanti menjadi laga terakhirnya. Apa rencana legendaAC Milan itu setelah gantung sepatu?
Banyak rekan satu tim Maldini yang lebih dahulu pensiun. Setelah tidak aktif sebagai pemain sepak bola, banyak di antara mereka yang memilih berkarir tidak jaub dari lapangan hijau.
Carlo Ancelotti, Roberto Donadoni, Marco van Basten, Ruud Gullit, dan Frank Rijkaard, contohnya. Maldini pun telah ditawari Rossoneri (julukan Milan) untuk menjadi pelatih tim junior.
Apalagi, dalam beberapa tahun belakangan, Milan tergolong gagal mengorbitkan bintang-bintang muda. Mereka kalah dari Juventus dan Inter Milan yang cukup produktif mengorbitkan pemain muda dan menjadi pemain penting dalam tim.
Di Juve, ada Paolo De Ceglie, Sebastian Giovinco, dan Claudio Marchisio. Sedangkan Nerazzur ri (julukan Inter) punya Mario Balotelli dan Davide Santon. Bandingkan dengan Milan yang masih terns mengandalkan pemain-pemain tua.
Sayang, Maldini belum memberikan keputusan. “Saya ingin menjauh dulu dari sepak bola sementara waktu, setidaknya hingga September mendatang,” ujar Maldini kepada France Football seperti dikutip Goal.
Bahkan, pria berusia 40 tahun tersebut berencana meninggalkan lapangan hijau, tapi segalanya belum pasti. “Apakah saya bertahan di sepak bola? Saya tidak tahu. Saya mempertimbangkan untuk meninggalkannya saat waktunya telah tiba. Tapi, segalanya masih bergantung kepada tawaran apa yang saya dapatkan,” ujar mantan kapten timnas Italia itu.
Tapi, jika pria yang punya pekerjaan sampingan sebagai DJ itu berminat menjadi pelatih, dia akan meneruskan tradisi keluarga Maldini. Sang ayah, Cesare Maldini, pemah menjadi pelatih AC Milan dan timnas Italia. (ham/diq)
Enggan Bicara Bola di Meja Makan
PAOLO Maldini bukan hanya sosok panutan di lapangan hijau. Bek AC Milan yang menjalani debutnya saat masih berusia 16 tahun itu tidak hanya piawai menjadi pemimpin di lapangan. Tapi, dia juga dikagumi di kehidupan rumah tangganya.
Selama 15 tahun berumah tangga dengan Adriano Fosse, model kelahiran Venezuela, kehidupan mereka jauh dari gosip. Dengan dua anak mereka, Christian, 13, dan Daniel, 6, mereka merupakan keluarga yang ideal.
Sebelum menikah dengan Maldini, Adriana merupakan sosok model temama di Italia. Tapi, dia memutuskan mundur dari karirnya saat mengandung putra pertamanya, Christian, pada 14 Juni 1996.
Dia bersedia mengakhiri karirnya demi keluarga bahagia yang dirajutnya bersama Maldini. Adriana menjadi sosok utama yang memberikan dukungan kepada il capitano Milan itu hingga masih mampu bermain di usia 40 tahun.
“Maldini layaknya lelaki lainnya. Dia selalu membuat saya tertawadan bangga. Dia sangat pengertian kepada keluarga. Dia rely menjaga anak-anak dari pagi hingga malam hari,” kata Adriana kepada La Ga–Zetta dello Sport.
Meski pertemuan awal keduanya berawal di diskotek, bukan berarti Maldini tipe prig yang doyen dugem. Mantan kapten timnas Italia tersebut biasanya pergi ke diskotek untuk mengisi waktu luang dan unjuk kebolehan sebagai DJ.
Adriana melanjutkan, Maldini merupakan sosok family Man. Maldini enggan membicarakan masalah di lapangan hijau saat duduk di meja makan, terutama di depan keluarganya.
“Saya ikut menangis ketika Milan kalah di Istanbul (final Liga Champions melawan Liverpool pada 2005). Tapi, dia justru menghibur saya. Lalu, saya sadar bahwa. dialah yang perlu dihibur dan dibangkitkan semangatnya,” tutur Adriana. (ham/diq)
Tragedi Istanbul Bukan Yang Terburuk
SUKA duka dirasakan Paolo Maldini dalam 24 tahun karirnya sebagai pemain. Pria, berusia 40 tahun itu membagi kisahnya dalam wawancara dengan WorldSoccer.
Seberapa berat rasanya harus gantung sepatu? Saya merasa sangat beruntung. Saya habiskan seluruh hidup saya di Milan untuk sebuah klub yang bagus dan saya selal u mendapatkan dukungan dari keluarga saya. Yang saya cari dalarn karir sudah saya dapatkan.
Berard, tidak ada lagi jalan bagi Anda untuk memulai musim depan? Tidak, tidak. Saya sudah i berhenti. Saya mulai bermain di Serie A sejak usia 16 tahun dan masih ben-nain di usia 40 tahun.
Anda katakan tidak ada penyesalan dalam karir dan sudah mendapatkan apa yang Anda inginkan. Nah, spakah kekalahan di final Liga Champions 2005 dari Liverpool di Lstanbul menyakitkan?
Kenapa itu harus menjadi memori buruk? bujustru merupakan salah satu final terbaik yang pemah saya alami. Kami bermain lebih baik daripada Liverpool dan seharusnya kami pantas menang.
Tapi, itulah indahnya sepak bola. Kami kembali bertemu mereka dan membalas kekalahan itu. Saya sudah memenangkan banyak gelar. Jadi, siap untuk kalah juga.
Apakah kekalahan dari Argentina pada Piala Dunia 1990 tidak menyakitkan? Piala Dunia 1990 sebuah pengalaman luar biasa meski mengecewakan. Mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk menang, tapi seharusnya kami bisamelaju ke final. Ingat, kami melaju ke semifinal tanpa sekali pun kebobolan.
Masih adakah memori lain soal Piala Dunia? Piala Dunia 1994 sungguh aneh. Memulai tumamen dengan kekalahan, tapi mampu melaju ke final dan kalah adu penalti. Saya juga ingin mengulang memori Piala Dunia 2002 melawan Korea Selatan. Saya masih ingat gol Ahn JungHwan. Itulah kenangan terakhir bersama timnas. (harn/diq)
Data Diri
Nama Paolo Cesare Maldini
Lahir Milan, 26 Juni 1968
Kebangsaan Italia
Tinggi 186 cm
Posisi main Bek
Caps/gol 126 laga (7 gol)
Karir 1984-2009 Milan
PRESTASI DI MILAN
- Tujuh kali juara Serie A Liga Italia
- Satu kali juara Coppa Italia
- Lima kali juara Piala Super Italia
- Lima kali juara Liga Champions
- Lima kali juara Piala Super Eropa
- Dua kali juara Piala Intercontinental
- Satu kali juara Piala Dunia Aniark lu b
PRESTASI Di TIMNAS ITALIA
- Peringkat: ketiga Piala Dunia 1990
Runner-up Piala Dunia 1994
- Peringkat ketiga Euro 1988
, Runner-up Euro 2000
PENGHARGAAN INDIVIDU
Man of The Match Liga Champions 2003
Tergabung dalam FIFA 100
- Masuk dalam UEFA Team of The Year 2003 dan 2005
- Bek terbaik Liga I Champions 2007
- Pemegang caps terbanyak di timnas Italia
TENTANG MALDINI
ü Di masa kecilnya, meski tinggal di Kota Milan dan anak dari idola AC Milan Cesare Maldini, Paolo Maldini kecil lebih mengidolakan Juventus. Roberto Bettega, striker legendaris Juventus, adalah idola Paolo Maldini.
ü Mulanya, dia memulai karir sebagai wingerkiri. Tapi, dalam kelanjutannya, dia memutuskan menjadi bek seperti ayahnya.
ü Di luar karirnya sebagai pemain sepak bola, Maldini punya profesi sampingan sebagai DJ pada 105 Radionetwork
ü Dia tergila-gila pada musik rap dan menjadikan 2 Pac, Will Smith, Articolo 31, dan Eros Ramazzotti sebagai pemusik yang disukainya.
ü Wajah menawan dan bodi yang atletis membuatnya menjadi sosok yang tepat sebagai model. Maldini pernah menjadi bintang iklan Opel, Adidas, dan kacamata Police.
ü Kedua anaknya, Christian dan Daniel, saat ini menjadi pemain tim junior Milan. Jika salah seorang di antara mereka bergabung dengan Milan senior, akan mewarisi nomor punggung tiga milik Maldini. (ham)
KATA MEREKA
SEPANJANG karirnya, selama 24 tahun, Paolo Maldini sudah menjadi sosok panutan bagi kawan maupun lawannya di lapangan. Apa komentar para tokoh terkemuka tentang Maldini.
Dia merupakan pemain yang luar biasa, salah seorang yang patut memenangi Ballon d’Or. Saya ingin memberikan satu gelar itu kepada dia.” Giuseppe Signori, pemain legendaris Lazio
Maldini seorang pe main besar dengan begitu banyak penghargaan yang diraih sepanjang karirnya. Sayang, saya hanya bermain bersamanya selama semusim.” Massimo Agostini, mantan striker Milan
Semangat yang dimiliki selalu menjadikan Maldini sebagai pemain yang hebat. Dia sungguh pemain yang unik dan pantas menjadi panutan,” Alessandro Del Piero, kapten Juventus
Pemain terbaik Milan dalam 20 tahun terakhir. Saya menempatkannya di urutan teratas, sedangkan (Franco) Baresi berada tepat di bawahnya.” Silvio Berlusconi, owner Milan
Kaka merupakan pemain yang membuat saya kagum, Zinedine Zidane sungguh brilian tanpa cela. Tapi, favorit saya adalah Paolo Maldini. Dia mungkin bukan pemain dengan teknik paling hebat, tapi paling luar biasa di era kejayaan Milan.” Sir Alex Ferguson, manajer Manchester United
Hanya Milan yang akan menjadi klub tujuan saya jika harus pergi dari Barcelona. Mengapa Milan, karena mereka punya Maldini.” Carles Puyol, kapten Barcelona
Terbaik dari sedikit Bek Kiri terbaik yang pernah ada.” Hanafi. Pennggemar Berat Milan (ham)
komen baru...