Ya kita sudah mukmin dan muslim tapi apa sudah yakin…

ada seorang pemburu yang sangat lihai dengan reputasi yang sangat tinggi, apapun yang dibidiknya dengan senapan pasti akan kena, setiap dia ditanya apa yang dia lihat dalam bidikannya itu, jika yang dibidiknya adalah burung maka dia akan bilang ‘aku melihat kepala burung pecah diterjang peluru’, jika yang dibidiknya adalah harimau dia akan bilang ‘aku melihat harimau menggelepar jantungnya tertembus peluru’. sedemikian hebatnya dia sehingga setiap tembakan yang dilepaskannya tak pernah meleset. semua orang mengakuinya dan semua orang percaya bahwa pemburu itu memang sangat lihai.

suatu saat pemburu itu memberi tantangan kepada orang-orang. dia akan meletakkan buah apel di atas ubun-ubun seseorang dan dia akan menembaknya dalam jarak 50 meter. bagi orang yang mau menjadi sukarelawan akan diberikannya hadiah yang besar… apa yang terjadi?

ternyata tidak ada seorangpun yang mau menjadi sukarelawan itu, meskipun semua orang tahu akan kelihaian sang pemburu tersebut, ada apa gerangan? ternyata mereka memang percaya dan mengakui bahwa pemburu itu hebat tetapi orang-orang tidak yakin apabila mereka harus berkorban untuk menjadi sukarelawan itu.

itulah yang kini tengah melanda umat islam, mereka memang iman dan islam tetapi mereka belum yakin dengan ajaran islam. masih banyak bertanya-tanya dan masih banyak menggunakan tapi-tapi. “saya percaya tapi…?” inilah yang kemudian menimbulkan kerusakan pada ajaran islam ketika nilai-nilai hakiki islam sudah dicampuradukkan dengan nilai-nilai materi keduniaan [nafsu]. keinginan untuk merasionalkan seluruh ajaran dan tuntunan yang kebablasan juga terkadang bisa menyebabkan orang musyrik tanpa disengaja. mereka meninggalkan konsep sami’na wa atho’na dan mengembangkan konsep sami’na wa tafakkarna [kami mendengar dan kami berpikir-pikir dulu]. apakah nabi musa berpikir lagi ketika dibelakangnya ada pasukan fir’aun dan di depannya laut merah, perintah rasional yang seharusnya datang dari ALLAH adalah ‘pukul kepala fir’aun dengan tongkatmua’ tetapi apa yang diperintakan ALLAH… ‘pukul air laut dengan tongkatmu’. apakah nabi ibrahim masih berpikir lagi ketika dia disuruh untuk menyembelih ismail kecil yang sedang lucu-lucunya… tidak, dia yakin dan percaya akan perintah ALLAH dan melaksanakannya, tidak dengan bertanya-tanya dan berpikir-pikir yang nerupakan ciri khas orang yahudi.

kadang agama memang tidak rasional tapi siapa yang bisa merasionalkan kehendak ALLAH?

[disarikan dari ceramah KH Muhklisun, Payaman Magelang dalam khaul keluarga besar bani usman tarukan dawung tegalrejo magelang, 5 syawal 1428 H]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s