jenmanii yang bikin heboh

sebelumnya saya penasaran kok ada temen saya yang sampe kedanan sama barang satu ini, denger2 sampe ada juga org yang sampe bunuh diri, bisa kaya mendadak, bikin mobil melayang, dlsb lah ceritanya…

nah ini ada artikel dari intisari mengenai ini, tak bela-2 ini scan n edit untuk ini

selamat menikmati…


Jika orang berani mengeluarkan uang ratusan jtita rupiah untuk rumah, mobil atau kilauan permata, jelas masuk akal, Namun Jika uang segitu “hanya” ditukar dengan helaian daun yang warnanya juga hijau, barangkail orang akan bertanya-tanya, kenapa?

Secara etimologi, anthurium berasal dari bahasa Yunani anthos (bunga) dan oura (ekor). Bunga anthurium memiliki bagian yang memanjang layaknya ekor, maka terkenal dengan sebutan si bunga ekor.

Bagian ini sebenarnya merupa-kan kumpulan kepala sari dan ke-pala putik sebagai alat pembiakan yang dinamai tongkol (spadix). Sedangkan bagian yang lebar dan berwarna-warni disebut sebagai seludang (spathe).

Dua bagian bunga ini juga men-jadi ciri khas dari keluarga Araceae.

Gara-gara Belanda

Jika dilihat dari kacamata awam, anthurium daun bu-kanlah sosok tanaman yang aneh. Memang, anthurium bukan tanaman baru di Indonesia. Sudah sejak lama, tanaman keluarga Araceae (keladi-keladian) ini meng-hiasi rumah warga. Walau-pun tanah kelahirannya di Amerika Tengah dan Sela-tan, masyarakat Indonesia tidak menganggapnya seba­gai warga pendatang. Karena jika ditilik dari sejarahnya, anthurium memang sempat menjadi “tanaman bangsawam” di era colonial Belanda (abad 19). Pada masa itu, Anthurium Crystallinum atau yang kita kenal sebagai kuping gajah dinobatkan menjadi tanaman eksklusif.

Keindahan kuping gajah ha-nya bisa dinikmati oleh orang Belanda dan pribumi ningrat, lantaran harganya yang mahal. Wajar saja, keindahan kuping gajah pada masa itu memang tidak tersaingi oleh tanaman lain. Bentuk daunnya yang le-bar dan kompak menjadikan tanaman ini tampak gagah. Ukuran daun dan bentuknya yang seperti telinga gajah ini-lah yang menjadikan tanaman ini terkenal dengan sebutan elephant ear. Corak keperakan dari tulang-tulang daun yang berlatar warna daun yang hijau gelap, sungguh memukau.

Seiring dengan hengkang-nya Belanda dari Indonesia dan kemajuan pengetahuan perihal budidaya tanaman bias, kuping gajah tidak la-gi jadi barang mewah. Kare-na semua orang bisa mena-nam, ia berganti predikat menjadi tanaman sejuta umat. Eksklusivitas anthurium pun terlupakan.

Toh, ragam anthurium tetap meramaikan pasar tanaman hias dunia, termasuk Indonesia. Terutama untuk anthurium bunga – si flamingo liy. Dari jenis Anthu-riam andreanum, Anthurium amnicola, Anthurium ferriense dan Iain-lain yang disilangkan, menghasilkan anthurium hibrida dengan bunga aneka rupa. Merah, pink, putih, ungu, hijau, dan coklat.


Harga melangit

Warna yang fantastis, ben-tuk unik dengan tongkol mi-rip hidung pinokio serta mudah berbunga, jadilah anthurium bunga sebagai tanaman hias pot dan juga bunga potong. Sentra bunga ini di Indonesia antara lain di Kota Batu, Mojokerto, Sukabumi, dan Cianjur. Hanya saja harganya masih wajar layaknya tanaman hias pada umumnya.

Baru kemudian di peng-hujung tahun 2006, fenome-na meroketnya harga anthu-rium daun dimulai. Menurut Ir. Nurdi Basuki, sekjen Per-himpunan Florikultura Indo­nesia (PFI), tanaman apa saja bisa menjadi tren jika ada yang berhasil menunjukkan ke-indahannya. Demikian juga an-thurium. Cobalah lihat sosok-nya, tampak gagah karena ukur-annya yang besar. Dilihat lebih detail lagi, ukuran daunnya pun lebar dengan bentuk yang kompak.

Setiap jenis menawarkan bentuk daun yang berbeda dan tentu saja menawan. Permuka-an daunnya mengkilap dan te-bal. Urat-urat daunnya tegas dan warnanya lebih menyala dibandingkan dengan warna daun. Jika dirawat dengan benar, daunnya bisa menyerupai plaslik. Keunggulan ini jarang diternukan pada tanam­an lain.

Ditambah lagi, untuk beberapa jenis anthnrium daun, keberadaan-nya memang terbatas. Membiakkan dengan bibit cukup mudah. hanya saja, dari ribuan biji yang ditanam, beberapa saja yang bisa menjadi tanaman bagus. Untuk menunggu pertumbuhan hingga menjadi tanaman yang besar, butuh waktu lama. Sementara peminatnya membengkak dalam waktu cepat. Akhirnya, jadilah anthurium daun harganya tak terbendung.

Harga anthurium yang bagus bak harga saham. Pagi dibuka dengan harga puluhan juta, sorenya bisa sampai ratusan juta.

Bagi pemilik tanaman yang sudah besar, anthurium bak me-sin ATM lantaran biji anthurium bisa laku puluhan hingga ratusan ribu rupiah per biji.

Dinamai semaunya

Ketika bisnis anthurium daun berprospek cerah, aneka jenis anthurium kerap dibicarakan. Hanya saja, tidak mudah menelusuri spesies alam anthu­rium daun yang sesungguhnya. “Dalam anthurium daun terja di open polination,” kata Gregori G. Hambali, ahli Araceae di Bo-gor. Antarjenis anthurium daun mudah sekali terjadi penyerbukan silang. Oleh karena itu, varian dalam satu jenis dan silangannya sangat beragam.

Namun pedagang tak ambil pusing. Mereka rnenamakan anthurium koleksinya semaunya sendiri. Nama itu biasanya berdasarkan bentuk tanaman ditambah sedikit imajinasi. Misalnya ada anthurium yang mempunyai daun berlekuk-lekuk bak penari, maka dinamai jaipong. Ada juga yang ujung daunnya melengkung mirip kepala ular, disebut sebagai kobra. Tiba-tiba saja, para pedagang menjadi ahli botani yang berhak memberi nama. Uniknya, para penggemar pun mengamini.

Walaupun. demikian, mari ki ta lihat aneka spesies alam dari anthurium. Menurut Deni Bown dalam bukunya Aroids (2000), anthurium mempunyai anggota terbesar di keluarga Araceae. Spesiesnya berjumlah 800, bah-kan mungkin 1.000. Sebagian besar berhabitat asli di Benua Amerika. Termasuk anthurium bunga yang telah disebutkan di atas. Hanya saja, di Indonesia, anthurium yang menjadi incaran hanya ada beberapa saja.

Antara lain Anthurium jen-manii, yang menduduki per-ingkat teratas perihal harga, se-kaligus sebagai lokomotif ter-dongkraknya harga. Habitat aslinya di Benua Amerika terutama kawasan Amazon dengan penyebaran dari Tobago, Trinidad, hingga Brazil. Masuk ke Indo­nesia sekitar tahun 1984. Ter­masuk jenis yang besar dengan panjang daun hingga 1,5 m. Ditandai dengan urat daun yang tegas dan daun tebal. Bentuk daun pun beragam. Ada yang bulat bagian ujungnya bengkok, disebut jenmanii kobra. Ada juga yang bulat cekung seperti mangkok (jenmanii mangkokj, atau yang berkelok sebagai je-manii jaipong, serta yang lancip sebagai jenmanii clurit, dan lain-lain.

Perihal warna daun, biasanya dominan hijau. Hanya ada jenis yang berwarna hijau kekuningan yang umum disebut sebagai jenmanii gold. Jenis ini bias dikata sebagai masterpiece lantaran pertumbuhannya lama. Untuk bias rimbun dan bagus dipajang di ruan yang besar dibutuhkan waktu 7 hingga 10 tahun. So, harganya mulai dari puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Geiombang cinta

Jenis yang sedikit lebih ce-pat pertumbuhannya adalah Anthurium hookeri. Susunan daunnya membulat cekung, terkadang saling menumpuk dan tumbuh menempel di batang pohon seperti sarang burung, maka dikenal sebagai bird’s nest antharium. Bentuk daun­nya lanset, dengan tulang daun bagian tengahnya lebih tebal dan menonjol. Warna tulang daun ini ada yang hijau dan ada yang merah hingga merah marun. Hookeri batang merah hingga merah marun sempat menjadi jagoan pada medio 2007 ketika harga jemanii semakin tak terbeli. Ragamnya ada yang menyebut sahara, ratu, marble, dan varigeta. Daun anthurium asal Guyana ini bias mencapi panjang hingga 50 cm dan lebar 35 cm.

Ada lagi jenis yang harganya sempat naik tetapi hanya dua bulan dan turun dengan cepat. Karena para importir bisa mengimpor bibit anthurium dari Bangkok dalam jumlah besar, sehingga ketersediaan di pasar meningkat. Jenis ini ditandai dengan daun yang bergelombang di bagian pinggirnya, maka di-sebut sebagai gelombang cinta (Wave of Love]. Anthurium ini menyukai naungan, tetapi bisa toleran terhadap sinar matahari langsung. Jenis yang beredar ada Wave of Love biasa, ada yang variegata, ada juga yang stang pendek.

Anthurium radicans atau di kenal sebagai anthurium sirih memang tidak sepopuler jenis-jenis di atas. Hanya saja, keberadaannya yang jarang dan bentuk daun yang unik membawa anthurium ini ke harga jutaan. Tangkai daun panjang namun ditutupi dengan susunan daun yang jatuh dan rapat hingga tampak kompak. Daunnya berbentuk seperti hati dengan permukaan daun bergelombang. Permukaan daun mengilap, berwarna hijau gelap, tampak megah didalam ruangan.

Jika radicans punya permu-kaan daun bergelombang tetapi daunnya pendek, Anthurium veitchii mempnnyai permukaan daun bergelombang tetapi panjang. Lekuk permukaan tersebut mengarah ke samping dengan tulang daun berwarna hijau muda. Ada lagi yang bentuk panjang tetapi permukaan daun­nya halus, dinamai Anthurium vitariifolium atau terkenal de­ngan anthurium dasi. Jenis ini bagus untuk digantung karena daunnya menjulur ke bawah melebihi tinggi pot.

Masih banyak jenis lain yang bagus dijadikan tanaman hias. Termasuk silangan antar jenisnya. Sebut saja anthurium corong, bintang kejora, dan garuda. Jadi, walau harganya nanti tidak lagi ratusan juta, marga anthurium tetap bisa menjadi idola dengan keragam-annya. •

Tipu-tipu dalam Anthurium

Wajar ditengah maraknya bisnis anthurium ada saja yang
mengambil untung lewat jurus tipu menipu. Tipuan pertama dengan perkawinan “ilegal” pada jenis anthurium
favorit, misalnya kobra. Saking maraknya perburuan A. jenmanii
kobra, orang rela membeli dalam bentuk apa saja. Termasuk biji
yang masih menempel di tongkol.

Ketika mengawinkan bunga, pedagang yang nakal suka meng-ambil serbuk sari dari bunga lain yang bukan jenis kobra untuk di-serbukkan dengan bunga kobra. Ketika jadi, pembeli diyakinkan de­ngan memetik sendiri tongkol dari indukan kobra. Tapi begitu dise-mai, hasilnya bisa sangat beragam. Bisa jadi, tak satupun anak yang sama dengan induknya. Padahal, untuk membeli satu butir biji kobra saja direlakan ratusan ribu. Jika satu tongkol bisa berisi 1.000 biji, bisa dibayangkan berapa kerugian yang diderita si pembeli.

Tipuan lain lebih telak. Ini terjadi di Kecamatan Jogonalan, Ka-bupaten Klaten, Jawa Tengah. Pembeli awam yang mencoba mera-jut mimpi untung melalui anthurium justru menjadi buntung. Pasal-nya, bibit segar nan sehat yang ditawarkan sebagai anthurium ter-nyata tumbuh besar dan berkayu. Karena bibit yang dibeli ternyata bibit kapuk randu. Bagi pemula, tidak mudah membedakan kecam-bah anthurium dengan kecambah tanaman lain, bahkan kapuk ran­du sekalipun.

Kalimat “teliti sebelum membeli” memang tak pernah mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s