Komoditas bernama “KEMISKINAN”

Dalam suatu adegan Reality Show Impianku yang tayang di Global TV, tampak seorang ibu-ibu dengan pakaian amat-amat sederhana berjalan tidak tentu arah, sementara sang host acara menjelaskan ini itu dari dalam mobil dan menyebut nama ibu itu Ibu Asih. Setiap shoot kearah ibu itu selalu tertera tulisan ‘Kamera Tersembunyi’. Sampai suatu saat ibu itu melihat ada anak SD kebingungan di pinggir jalan, diapun menolong mengantar anak itu, antar kemana gak jelas. Tiba-tiba datang kedua orang tua anak SD tersebut, langsung marah-marah memaki-maki bahkan mendorong Ibu Asih sampai jatuh dengan menuduh Ibu Asih telah menculik anak SD tersebut. Tiba-tiba lagi datang mobil patroli Satpol PP dan langsung menggelandang Ibu Asih ke pos Pol PP. Sang Host pun mengejar mobil patroli tersebut, sampai disana bagai malaikat host menjelaskan bahwa Ibu Asih hendak menolong anak itu karena kebingungan menunggu jemputan. Sementara Host sambil tersedu-sedu menjelaskan tak ada ekspresi ataupun jawaban apapun dari Pak Satpol itu, hanya nggejejer saja, padahal sang Host dan Ibu Asih tangis-tangisan dan bilang kalau dia pun sedang kebingungan karena mau pulang kampung tidak punya uang. Ibu Asih diberi uang dan acara selesai sambil menjelaskan nilai-nilai moral yang agung.

Sekilas acara ini menyentuh, tapi dari adegan yang ada sangat jelas kalo semua itu hanya dibuat-buat, ini indikasinya, Saat Ortu anak itu datang, memaki-maki dan mendorong tak ada yang coba mendekat untuk sekedar bertanya apa yang terjadi, malah ada orang duduk-duduk sambil nonton adegan itu. Kemudian kok ya amat-sangat kebetulan kalo tiba-tiba ada Satpol PP datang, tanpa babibu langsung menggelandang ibu itu. Adegan di pos Pol PP pun sangat-sangat wagu dan terkesan dibuat-buat, meski sang host mengesankan bahwa peristiwa itu memang nyata, kan reality show, kalo adegan yang diatur apa tidak namanya menipu pemirsa mentah-mentah.

Saya betul-betul gerah menyaksikan ini mengapa? sebagai penggiat PNPM di kampung yang bergelut menangani kemiskinan, saya merasa acara ini hanya menjadikan Tema Kemiskinan sebagai komoditas saja, begitupun acara-acara reality show bertema kemiskinan yang lain. Si Miskin dibuat sedemikian terhina untuk kemudian datang malaikat bernama reality show menolong dengan gagah berani. Meskipun terkandung nilai moral yang tinggi disini tentang arti berbuat baik, kesederhanaan dan tolong-menolong tapi, menjadikan orang miskin hanya sebagai obyek penderita saja.

Coba sidang pembaca bayangkan, dari sekian ratus juta yang didapat stasiun tv dari slot iklan, berapa persen yang diberikan kepada Si Miskin, tentu bagian terbesar masuk ke Stasiun TV, produser, sutradara dll, dsb kan…

Ya ini cermin kualitas tontonan TV kita… silahkan sidang pembaca renungkan dan mari kita selektif untuk menentukan tontonan bermutu bagi keluarga kita, anak kita, generasi muda kita, bangsa kita

6 thoughts on “Komoditas bernama “KEMISKINAN”

  1. @1… just say what i see aja kok, karena sangat mengganggu batin saja… :mrgreen:

    @2… Acara ra mutu blassss ga tahu jan gak rugi…πŸ˜€

    @3… Ponang nontonya mbombob sperpen ya… πŸ˜†

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s