TRADISI SEPUTAR RAMADHAN

TRADISI DI SEPUTAR RAMADHAN DAHULU DAN SEKARANG

Ramadhan telah masuk ke paruh kedua, sebentar lagi akan kita jelang kulminasi dari Ramadhan, entah kan eraih kemenangan ataukah kita akan tetap saja berkubang dalam kehidupan duniawi yang semakin menyesakkan ini. Marilah berharap kemenanan itu bisa diraih. Amin.

Setiap masuk Ramadhan sudah pasti hati dan jiwa kita beserta jasmani kita berasa siap untuk melakukan berbagai amalan Ibadah untuk semakin mendekatkan diri dengan sang Khaliq kita. Serasa semua terasa ringan dikerjakan, tadarus Quran, Tarawih, kuliah subuh, Pengajian jelang buka puasa, kultum dan sebagainya. Masjid dan musholla pun penuh sesak terutama di minggu pertama.

Disamping kegiatan-kegiatan utama itu ada berbagai tradisi di berbagai daerah untuk menyambut dan meramaikan bulan suci ini, di daerah saya misalnya, ada beberapa tradisi diantaranya :

NYADRAN

a.k.a. Sadranan

ramai banget..

ramai banget..

Tradisi ini adalah warisan dari nenek moyang dulu katanya, dari jaman Hindu sudah ada tradisi Nyadran ini, sampai kemudian masuknya agama Islam tradisi ini beradaptasi. Adalah kegiatan ziarah kubur bersama-sama seluruh kampung pada hari-hari mendekati Ramadhan. Kampung serasa ramai sekali pas nyadran ini. Kerabat dari jauh datang untuk katanya birrul walidain, mendoakan para leluhur yang sudah meninggal dan bersih kubur. Asiknya, setelah acara nyadran di makam selesai dilanjutkan Kembul Bujono Tumpengan di Musholla terdekat… nasi tumpeng pun segera ludes karena memang rasanya uenak pol, padahal ya biasa aja Cuma sego kluban to. Tapi karena dimakan bersama-sama jadi berasa nikmat.

PADUSAN

Entah bagaimana awal mula tradisi ini, yaitu kegiatan mandi sebersih-bersihnya untuk menyambut datangnya bulan puasa. Esensi mandi ini sebenarnya yang tidak semata-mata mandi secara lahiriah tetapi mensucikan hati dan jiwa agar kita dalam menjalankan ibadah puasa mendapat keridhoan Allah Swt. Yang jelas akhir-akhir ini padusan telah bergeser maknanya hanya sekedar hura-hura di obyek wisata dengan hiburan yang sebagian besar mengandung maksiat.

Sewaktu kecil dulu padusan bagi saya adalah jeguran di kali progo ataupun di sendang desa kami, sungguh sangat menyenangkan.

Status : masih ada

NGENTENI DHUL

a.k.a. NGABUBURIT

Ini mungkin hanya ada di daerah saya, menunggu bom dibunyikan sebagai tanda masuk waktu Maghrib, ya bom! Memang itu bom betulan yang dibunyikan dari alun-alun Kota Magelang dengan dilontarkan keatas. Biasanya kami akan berbondong-bondong ke tanggul irigasi yang disebut ‘Ngepeh‘ mungkin dulu untuk tempat menjemur [mepe] gabah sehingga disebut ngepeh. Disini asiknya bukan main, beramai-ramai denga membawa bekal untuk berbuka. Saat buka puasa tiba akan ada seberkas cahaya naik keatas dan diikuti kilatan besar sesaat kemudian terdengar suara BUM.. ya itulah dhul bagi kami. Saat melihat kilatan cahaya itulah semua berteriak.. “kae.. kae.. kae.. hore…” dan bekalpun entah apa itu sangat nikmat untuk dilahap.

Status : sudah tidak ada lagi.

THETHEK

A.k.a. Thek-Thek

Yaitu membunyikan alat-alat musik entah apa dengan irama untuk membangunkan orang sahur. Saya selalu minta kepada kakak-kakak saya untuk minta dibangunkan jam 2.00 – 2.30 untuk ikut thethek ini, kami akan berkeliling kampung dengan membunyikan alat-alat dari kentongan, botol minuman, kaleng, alat-2 dapur, harmonika, gendang dan lain sebagainya, ramai sekali. Dijamin kalau kami lewat orang pasti bangun saking kerasnya alat musik yang dimainkan ini. Tapi terkadang ada pula orang yang jengkel sehingga suatu saat pernah kami disiram air seember ketika lewat depan rumah seorang ibu-ibu karena belai kaget.

Status : masih ada tapi jarang

LONG BUMBUNG

A.k.a. Mercon Bambu

Hari-hari pertama puasa biasanya kami akan berkeliling [yak-yakan] ke kebun-kebun bambu sampai ke pinggir kali progo berburu bambu ampel yang paling bagus untuk dibuat long bumbung. Dikatakan bagus jika bambu ampel ini sudah tua lurus dan ruasnya panjang-panjang maka suara yang dihasilkan akan ulem bunyinya. Cara membuatnya pun mudah. Bambu ampel ini dipotong sekitar 3 ruas kemudian dilobangi ruas-ruasnya disisakan ruas terakhir, kemudian pada ruas terakhir itu diberi lobang kecil untuk menyulut mercon itu. Kemudian bambu itu diisikan dengan minyak tanah dan disulut dengan api. Setelah bambu panas sehingga minyak di dalam juga panas dengan tingkat kepekatan asap yang pas maka saat disulut bambu ini akan mengeluarkan suara seperti meriam, BUM!!!

Keasikannya adalah selama proses memanaskan bambu ini yang lumayan lama dan setiap sulutan harus ditiup keras-keras hingga sebenarnya sungguh tidak pas sebenarnya kalau dimainkan pas bulan puasa.. bikin lemas. Tapi namanya anak-anak asik aja.

Status : sudah tidak ada

MEMBUAT MERCON

Kami menyebut long atau elong setelah memasuki pertengehan Ramadhan seperti sekarang ini biasanya kami mulai disibukkan dengan kegiatan persiapan untuk pesta mercon di hari raya. Saya termasuk dalam geng anak-anak pembuat mercon ini meski tugas saya adalah paling ringan yaitu memotong kertas ataupun kadang-kadang naik pangkat untuk menggulung kertas itu dengan bambu kecil cetakan mercon. Tugas-tugas yang lebih berbahaya semisal mengisi bubuk mesiu dan memasang sumbu dikerjakan oleh para senior. Jan dulu ternyata kami mirip teroris yang sedang merangkai bomb. Mercon itu dibuat amat sangat banyak, sampai ribuan brur! Untuk selanjutnya dirangkai / direnteng sekitar 2,5 m. biasanya akan dibuat 5 – 8 renteng dengan berbagai ukuran. Mercon renteng ini dinyalakan pas di hari lebaran saat ramai-ramainya orang pulang dari ziarah kubur dan mulai ujung-ujungan.

Status : sudah tidak ada, kalau masih ada bisa-bisa dianggap koncone noordin m top berabe..

SELIKURAN

Untuk menyambut datangnya lailatul qodar biasanya didaerah saya diadakan acara tirakatan di malam ke-21 ramadhan, inilah selikuran. Bagi kami anak-anak selikuran adalah ajang mengetes mercon yang telah dibuat. Biasanya setelah acara makan-makan usai kami akan menderet mercon tester ini di sepanjang jalan menuju musholla kemudian dibunyikan bersama-sama. Di malam selikuran ini juga biasanya kami membuat balon dari plastik yang dilas sampai sebesar mobil minibus, ya.. besar memang balon itu nanti dilepaskan beramai-ramai dan tentu saja digantung mercon dan kembang api tetes disana. Lalu bagaimana cara membunyikan mercon dan kembang api tetes itu di atas sana. Ternyata mudah saja bro, cukup diujung sumbu mercon renteng itu dikasih garet [kertas pembungkus rokok lintingan] yang halus, namanya dulu garet melawan entah sekarang masih ada atau tidak, garet ini dilinting secara kasar dan disulut sekira nanti pas di jarak tertentu yang diinginkan garet ini habis dan mercon + kembang api tetes menyala. Pernahkan anda melihat kembang api tetes menyala di langit gelap? Wuah… hebat sekali rasanya berhasil menyalakan waktu itu. Membuat ini memerlukan eksperiman yang tidak main-main tentang bentuk balon seperti apa yang paling stabil naik ke atas? Bahan plastik apa yang paling baik, membuat asep yang bagaimana dan dari bahan apa? [asep merupakan bola api yang dipasang dimulut balon untuk memanaskan udara didalam balon sehingga balon bisa naik ke atas], dsb. Master pembuat balon ini ditempat saya ada dua orang namanya yang satu Remit [miftah] dan Yasin [yang ini ponakan saya sekarang jadi amtenar di ujung timur jawa].

Status : sudah tidak ada

TEBIR

A.k.a. Takbiran

Kalau tradisi ini tentu dimanapun ada saya kira. Berkeliling kota sambil mengumandangkan takbir maupun di musholla dan masjid.

Status : masih ada

UJUNG

Rasanya tidak lengkap kalau tradisi ini juga tidak dibahas sekaligus. Ujung alias saling bermaaf-maafan dengan mendatangi rumah-rumah satu persatu, yang muda mendatangi yang tua. Sajian pun nggladrah, mau makan apa saja ada, setiap orang sumringah, pakaian semua baru, pesta mercon sepuasnya, kantong penuh uang saku, saudara-saudara semua berkumpul. Sungguh rasanya tidak ada kebahagian yang melebihi kebahagiaan hari lebaran ini.

Itulah diantara beberapa tradisi mengasikkan di dalam bulan ramadhan. Akhirnya mari berharap Ramadhan ini dapat memberi pencerahan bagi kita sehingga cahaya Ramadhan tetap bersinar di jiwa sampai setahun kedepan….

8 thoughts on “TRADISI SEPUTAR RAMADHAN

  1. Semua tradisi itu dulu selalu menjadi bangian dari kehidupan saya, dari nyadran sampai ujung sekarang, karena hidup di kota besar seakan sebagian itu hanya jadi kenangan masa laluku, yang hanya akan menjadi kerinduan2 cinta pada ndesoku, Magelang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s