Lebaran 1432 H Berbeda (lagi)

Jangan-jangan ini hanya masalah gengsi

hilalHilal yang ditunggu pada sepanjang sore ini tidak juga muncul maka Hari Raya Idul Fitri 1432 H kali ini dipastikan terjadi ketidaksamaan waktu antara Muhammadiyah dan non Muhammadiyah, terlepas dari apapun alasan dari perbedaan ini, dari kacamata saya sebagai orang yang awam, perbedaan hari raya yang selalu terjadi mencerminkan tidak bersatunya umat. Untuk menyikapi perbedaan internal saja tidak bisa dicarikan jalan keluar sehingga harus ada yang berbeda dalam berhari raya, bagaimana dengan isu-isu yang lebih besar?

Dari apa yang saya ikuti dari media perselisihan penentuan penanggalan antara Hisab dan Rukyat adalah di 2 derajat kenampakan hilal, dibawah itu, hilal hampir mustahil dilihat. Jadi sampai kapanpun kalau tidak ada kompromi yang bisa disepakati maka penentuan hari raya akan selalu terjadi perselisihan. Apa gunanya ada regulator kalau begini, Pemerintah maksudnya, bukankah ada himbauan untuk menyerahkan keputusan kepada Penguasa kalau terjadi perselisihan antara golongan dalam penentuan awal bulan qomariah. Dan notabene kemungkinan untuk tidak bisa dirukyatnya hilal sudah diketahui jauh-jauh hari, seharusnya hal seperti ini sudah diantisipasi oleh para pemuka Organisasi Islam yang ada.

Tidak terlalu masalah untuk penentuan bulan Qomariah lain akan tetapi untuk penentuan awal Ramadhan, Syawal dan Dzul Hijjah adalah sangat krusial karena di bulan-bulan itu ada keharusan (kewajiban) berpuasa dan larangan (haram) untuk berpuasa. Saya tidak tahu apa implikasinya di akhirat nanti dengan adanya perbedaan semacam ini.

Ingatan jadi kembali ke rezim masa lalu yang berkuasa lama sekali itu, disana tidak pernah terjadi hari raya yang berbeda, dan anda semua sudah tahu dari golongan mana menteri-menteri agama yang menjabat pada masa itu. Baru pada saat keran demokrasi dibuka lebar-lebar inilah perselisihan kerap kali terjadi, mengapa begitu? toh dulu bisa diterima, kenapa sekarang tidak? Apakah demokrasi itu berarti asal berbeda dengan yang lain dengan mengabaikan hal yang lebih besar dari itu yaitu persatuan umat? Ternyata persatuan butuh adanya satu Tangan Besi yang harus campur tangan.

“Jangan-jangan ini hanya masalah gengsi”

Satu lagi fenomena dalam penentuan bulan Qomariah ini adalah, NU yang dalam penentuan hukum-hukum biasanya lebih fleksibel (tidak berhenti di nash, misal penentuan jumlah rakaat tarawih yang mengikuti pendapat sahabat umar daripada Hadis yang diriwayatkan Aisyah) dalam penentuan bulan ini bertumpu pada Nash Hadist yang diucapkan Nabi. Muhammadiyah pun demikian yang biasanya cenderung mendasarkan segala sesuatu pada Nash, dalam hal ini malah bersikap fleksibel. Apakah ada yang bisa menjelaskan ketidak tahuan saya mengenai hal ini?

Demikian kegundahan yang saya rasakan dengan adanya perbedaan Lebaran ini meskipun pada dasarnya kapanpun hari rayanya tidak masalah, meskipun setahun penuh adalah Ramadhan pun akan saya jabanin deh, bukan begitu Saudara?

Mohon maaf apabila ini dianggap membesar-besarkan perbedaan tapi suara umat awam juga saya kira perlu didengarkan untuk kebaikan umat di masa mendatang.

Akhirnya Saya beserta keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H (kapanpun anda merayakannya) Mohon maaf atas segala salah dan alpa, semoga amal ibadah Ramadhan kita diterima Allah Swt.

3 thoughts on “Lebaran 1432 H Berbeda (lagi)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s